MAKE THE DAYS COUNT

MAKE THE DAYS COUNT

Saturday, February 12, 2011

Jadilah Seperti Lebah


Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya).” (Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Bazzar)

Seorang mukmin adalah manusia yang memiliki sifat-sifat unggul. Sifat-sifat itu membuatnya memiliki keistimewaan dibandingkan dengan manusia lain. Sehingga di mana pun dia berada, kemana pun dia pergi, apa yang dia lakukan, peranan dan tugas apa pun yang dia pikul akan selalu membawa manfaat dan maslahat(kebaikan) bagi manusia lain. Maka jadilah dia orang yang seperti dijelaskan Rasulullah saw., “Manusia paling baik adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lain.”

Untuk menjadikan kehidupan ini agar menjadi indah, menyenangkan, dan sejahtera sangat memerlukann manusia-manusia seperti itu. Dalam keadaan apa sekalipun, dia akan membuat yang terbaik; apa pun peranan dan tugas yang diberikannya, dia akan menjadi manusia dan keadaan di sekelilingnya menjadi bahagia dan sejahtera.

Maka, sifat-sifat yang baik itu antara lain terdapat pada lebah. Rasulullah saw. dengan pernyataanya dalam hadits di atas mengisyaratkan agar kita meniru sifat-sifat positif yang dimiliki oleh lebah.

Tentu saja, sifat-sifat itu sendiri memang merupakan ilham dari Allah swt. seperti yang Dia firmankan, “Dan Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu).’ Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (An-Nahl: 68-69)

Sekarang, bandingkanlah apa yang dilakukan lebah dengan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang mukmin, contohnya seperti ini:
Hinggap di tempat yang bersih dan menghirup apa hanya yang bersih sahaja.

Lebah hanya hinggap di tempat-tempat terpilih sahaja. Lebah sangat jauh berbeza dengan lalat. Lalat sangat mudah ditemui di tempat sampah, kotoran, dan tempat-tempat yang berbau busuk. Tapi lebah, ia hanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat-tempat bersih yang mengandungi bahan madu atau nektar.

Begitulah pula sifat seorang mukmin. Allah swt. berfirman:

Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah: 168)

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al-A’raf: 157)

Mengeluarkan yang bersih.
Siapa yang tidak tahu madu lebah. Semuanya tahu bahawa madu mempunyai khasiat yang banyak untuk kesihatan manusia. Tapi dari organ tubuh manakah keluarnya madu itu? Itulah salah satu keistimewaan lebah. Lebah sangat kaya dengan kebaikan,sedangkan dari organ tubuh pada binatang lain, mereka hanya mengeluarkan sesuatu yang menjijikan.


Begitu juga seorang mukmin, kita haruslah menjadi manusia yang produktif dengan kebaikan. “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan (khair), supaya kamu mendapat kemenangan.” (Al-Hajj: 77)

Al-khair adalah kebaikan atau kebajikan. Akan tetapi al-khair dalam ayat di atas bukan merujuk pada kebaikan dalam bentuk ibadah ritual. Sebab, perintah ke arah ibadah ritual sudah terwakili dengan kalimat “rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu” (irka’u, wasjudu, wa’budu rabbakum). Al-khair di dalam ayat itu justru bermakna kebaikan atau kebajikan yang buahnya dirasakan oleh manusia dan makhluk lainnya.


Segala yang keluar dari dirinya adalah kebaikan. Hatinya jauh dari prasangka buruk, iri, dengki; lidahnya tidak mengeluarkan kata-kata kecuali yang baik; perilakunya tidak menyengsarakan orang lain melainkan justru membahagiakan; hartanya bermanfaat bagi banyak manusia; kalau dia berkuasa atau memegang amanah tertentu, dimanfaatkannya untuk sebesar-besar kemanfaat manusia.


Tidak pernah merosakkan.

Seperti yang disebutkan dalam hadits yang sedang kita bahas ini, lebah tidak pernah merosak atau mematahkan ranting yang dia hinggapi. Begitulah seorang mukmin. Dia tidak pernah melakukan kerosakan dalam apa-apa hal sekalipun: baik secara fizikal mahupun tidak.. Bahkan dia melakukan pembaikan akidah, akhlak, dan ibadah dengan cara berdakwah. Mengubah kezaliman apa pun bentuknya dengan cara berusaha menghentikan kezaliman itu.


Bekerja keras
Lebah adalah pekerja yang bekerja keras. Ketika muncul pertama kali dari biliknya (saat “menetas”), lebah pekerja membersihkan bilik sarangnya untuk telur baru dan setelah berumur tiga hari ia memberi makan larva, dengan membawakan serbuk sari madu. Dan begitulah, hari-harinya penuh semangat berkarya dan beramal. Bukankah Allah pun memerintahkan umat mukmin untuk bekerja keras?

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (Alam Nasyrah: 7)
Kerja keras dan semangat pantang berundur itu lebih-lebih lagi dituntut lagi dalam menegakkan keadilan. Karena, meskipun memang ramai manusia yang cinta keadilan, namun kebanyakan manusia –kecuali yang mendapat rahmat Allah– tidak suka jika dirinya rugi dalam menegakkan keadilan.


Bekerja secara jama’i dan tunduk pada satu pimpinan
Lebah selalu hidup dalam koloni besar, tidak pernah menyendiri. Mereka pun bekerja secara kolektif, dan masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri. Ketika mereka mendapatkan sumber sari madu, mereka akan memanggil teman-temannya untuk menghisapnya. Demikian pula ketika ada bahaya, seekor lebah akan mengeluarkan feromon (suatu zat kimia yang dikeluarkan oleh binatang tertentu untuk memberi isyarat tertentu) untuk mengudang teman-temannya agar membantu dirinya. Itulah seharusnya sikap orang-orang beriman.

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaff: 4)



Tidak pernah melukai kecuali kalau diganggu
Lebah tidak pernah memulakan serangan. Ia akan menyerang hanya manakala apabila terasa diganggu atau terancam. Dan untuk mempertahankan “kehormatan” umat lebah itu, mereka rela mati dengan melepas sengatnya di tubuh pihak yang diserang. Sikap seorang mukmin: musuh tidak dicari. Tapi jika ada, tidak lari.


Itulah beberapa karakter lebah yang patut ditiru oleh orang-orang beriman. Bukanlah sia-sia Allah menyebut-nyebut dan mengabadikan binatang kecil itu dalam Al-Quran sebagai salah satu nama surah: An-Nahl. Allahu a’lam

Friday, February 11, 2011

Keikhlasan Penawar Kesulitan



Malam itu seperti biasa aku bersiap-siap untuk ke tempat latihan 'breakdance' di Dataran Tanjongmas,Muar. Tiba-tiba badan aku terasa sakit-sakit lalu menjejaskan niatku untuk keluar.Mungkin badanku tidak dapat menanggung kepenatan setelah seharian aku membanting tulang membantu kawanku,Pain memunggah barang-barang untuk dipindahkan ke Melaka.

Petang itu aku diminta untuk membantu Pain untuk memindahkan barang-barang ke stor sementara di Jasin,Melaka.Kebetulan ketika itu aku sememangnya sedang makan angin-angin kosong di rumah.Lalu aku memintanya mengambil aku di rumah.Sememangnya penat menggigit badanku sesudah selesai kerja-kerja memunggah.

Seterusnya kami meneruskan perjalanan ke Jasin.Setibanya di persimpangan lebuhraya Melaka,rakanku,Prof,berhenti tiba-tiba.Aku bertanya mengapa berhenti sedangkan destinasi masih lagi sejauh 10km.Dia sekadar menggaru-garu kepala menunjukkan meter minyaknya.Huh,patutlah.Kami mula memberi buah fikiran masing-masing,namun yang terbayang hanya stesen minyak,yang terletak di pekan lebih kurang 8km lagi.

Kemudian,Usop,memberi idea dengan berkongsi minyak dengan motor sesiapa yang masih penuh.Mulanya rakanku seorang lagi,Akim keberatan untuk membantu kerana dia bimbang untuk mengeluarkan wangnya yang hanya tinggal beberapa keping wang biru untuk mengisi minyak.Tiba-tiba hatiku terdetik untuk menanggung wang minyak Akim.Aku menyeluk sakuku,namun yang ada hanya RM10.Aku mula berfikir,"Apa salahnya aku bayarkan.Lagipun situasi sedang gawat ni,lagi-lagi nak hampir maghrib".

Tanpa bercerita panjang,aku meyakinkan Akim yang aku akan membayar minyaknya.Dengas sebulat suara,Usop lincah menunjukkan kepakarannya.Alhamdulillah,motor Prof dapat hidup semula.Kami meneruskan perjalanan.
Setelah sampai,kami meneruskankerja-kerja memunggah barang.Walaupun kepenatan,tetapi aku gembira dapat membantu rakanku serta melayan kerenah mereka.

Tepat ke pukul 6,kami singgah ke stesen minyak dan terUskan perjalanan pulang.
Sesudah mandi,aku merasa sangat penat.Aku nekad mengambil langkah ke bilik lalu aku menghempaskan badan ke katil.Ya Allah,penatnya.Aku mengalihkan pandangan ke jam dinding.Tak apalah,baru ke pukul 8.Masih ada masa untuk rehat sebentar sebelum pergi latihan.

Aku terjaga dari tidur pada pukul 9.45,lalu aku segera mengambil wuduk dan menunaikan Isyak.Setelah selesai aku bergegas menukar pakaian.Tiba-tiba aku dapati kunci keretaku tiada.Aku bertanyakan ibu,lalu ibu berkata abangku sudah membawanya bersiar-siar.Aku merasa sangat geram.Dengan perasaan marah,aku segara mengambil topi keledarku,lalu aku nekad untuk berjalan kaki kira-kira 4km.
Ketika dalam perjalananku,aku didatangi seorang lelaki berpakaian gelap yang sedang menunggang motor yang berhenti tiba-tiba di hadapanku.Dia lekas memanggil namaku.

Pada mulanya aku berasa syak wasangka kepada lelaki itu,namun aku merasa lega tatkala mendengar suaranya.Rupanya Akim.Kebetulan pula dia terjumpa aku di bahu jalan,lalu dia menawarkan aku menumpang motornya.
"Takpelah,bro.Kan petang tadi kau dah 'tolong' aku"katanya.

Aku tersentak seketika dengan kata-katanya itu.Perasaan amarahku sebentar tadi dengan segera bertukar gembira.Memang benarlah,Allah Maha Adil.Dia sentiasa mengurniakan rezeki kepada hamba-hamba-Nya,tidak mengira susah mahupun senang.Kesusahan rakanku petang itu dapat diselesaikan dengan bantuanku.Dan siapa tahu,malam itu aku pula dibantu.Terima kasih, ya Allah.

"Aku mula sedar, daripada perbuatan kecil mahupun besar, masing-masing mempersoalkan keikhlasan, walhal keikhlasan itu adalah terbitnya dari dasar hati."


- Artikel iluvislam.com

Revolusi Islam di Timur Tengah - Tahun 2011 Zaman Kebangkitan Umat Islam

Pada awal tahun 2011 ini, kita telah dikejutkan dengan satu revolusi atau kebangkitan umat Islam dalam menentang kezaliman yang melampau oleh sang pemerintah.


Peristiwa ini mula tercetus apabila rakyat dari Tunisia mula bangkit menentang rejim zalim yang telah menekan dan menindas mereka semenjak berakhirnya penguasaan Khalifah Uthmaniah di negara ini pada tahun 1881.

Kronologi Kebangkitan Rakyat Tunisia

Kebangkitan rakyat Tunisia (revolusi Jasmin atau Melor) dimulakan oleh Muhammad Bouazizi yang merupakan seorang graduan lepasan sebuah universiti tempatan. Beliau pada ketika itu hanya berusia 26 Tahun. Namun disebabkan kegagalan pemerintah menyediakan peluang pekerjaan yang mencukupi, pekerjaan amat sukar diperolehi walaupun bagi seorang graduan. Kadar pengangguran tinggi sehinggakan mencecah 40 peratus.

Demi mencari sumber pendapatan yang halal, beliau terpaksa menyara diri dengan menjual sayur-sayuran di pinggir jalan. Akan tetapi, selepas tujuh tahun menjadi penjual sayur-sayuran, kedai beliau telah disita oleh kerajaan dengan alasan beliau berniaga tanpa izin.

Pada Hakikatnya, Bouazizi sudah cuba untuk membayar 10 Dinar Tunisia serta ditambah lagi dengan 7 dolar, namun, pegawai kerajaan tidak mengendahkannya malahan beliau telah ditampar, diludah serta keluarganya dihina dengan begitu dasyat. Justeru, beliau bertekad membawa kes ini kepada penguatkuasa untuk diadili, tetapi sebaliknya kekecewaan yang ditemui. Sekali lagi beliau tidak diendahkan oleh penguatkuasa, malah beliau langsung tidak dapat bersua dengan mereka bagi menyuarakan hal tersebut.

Pengorbanan ke Arah Kebangkitan Gerakan Kesedaran

Beliau yang begitu kecewa dengan tindakan rejim ini lantas mengambil langkah untuk membakar diri di hadapan pejabat pihak berkuasa tempatan di kota kelahirannya Sidi Bousaid pada 17 Disember 2010 sejurus selesai solat Jumaat. Tindakan yang diambil oleh Bouazizi bukan sahaja membakar dirinya, malah dia juga telah membakar semangat rakyat Tunisia untuk menjatuhkan kerajaan zalim Ben Ali.

Hasil dari peristiwa tersebut, berlakulah demonstrasi besar-besaran yang dianggotai oleh segenap lapisan masyarakat yakni penganggur, golongan intelektual, golongan profesional dan sebagainya. Demonstrasi tersebut dikatakan bermula di kota Sidi Bousaid lalu merebak ke seluruh kota-kota besar Tunisia seperti ibu kota Tunis, Sfak, Cartagho, Qairawan dan lain-lain.

Demonstrasi besar-besaran ini akhirnya sukar bagi kerajaan rejim Ben Ali untuk membendungnya sehinggakan pejabat-pejabat kerajaan dan swasta serta pusat-pusat membeli belah telah ditawan oleh golongan demostrasi. Akibatnya negara menjadi lumpuh.

Disebabkan kegagalan rejim Ben Ali mengawal gelombang kebangkitan, pihak tentera dan polis mula bertindak balas. Hasil daripada campurtangan pihak tentera dan polis, berpuluh-puluh nyawa melayang serta ribuan yang telah cedera demi memastikan kejatuhan rejim zalim ini.

Tumbangnya Kerajaan Ben Ali

Tekanan demi tekanan yang diterima oleh rejim tersebut akhirnya membuatkan presidennya, Ben Ali mengambil tindakan cuba melarikan diri bersama keluarganya ke Perancis. Namun begitu, permintaannya untuk melarikan diri di perancis telah ditolak bulat-bulat sehingga beliau terpaksa melarikan diri ke Arab Saudi.

Kebangkitan rakyat ini akhirnya membuahkan hasil apabila rejim diktator Ben Ali berjaya digulingkan pada 14 Januari 2011, 10 hari selepas Bouazizi meninggal dunia. Pada masa itu, negara Tunisia berada dalam keadaan darurat. Namun bagi mengisi kekosongan presiden, Perdana Menteri Mohammad Gannouchi telah mengambil alih kuasa tersebut walaupun ia bertentangan dengan perlembagaan negara Tunisia. Jawatan Perdana Menteri pula telah diambil alih oleh Speaker Parlimen Tunisia, Fuad Almabzeig.

Tidak lama selepas itu, kerajaan baru tersebut telah menjemput parti pembangkang untuk membentuk kerajaan sementara bagi meredakan kembali kemarahan rakyat selain berjanji akan mengadakan pilihanraya umum yang adil dan bebas dalam tempoh enam bulan.

Ben Ali, penguasa diktator Tunisia yang telah berkuasa selama 23 tahun dengan berpandukan pemerintahan sekular telah dijatuhkan oleh gelombang bekas graduan negaranya sendiri. Ini merupakan satu gelombang kesedaran bagi setiap masyarakat Islam bukan sahaja di bumi Tunisia, akan tetapi di segenap pelusuk dunia untuk bangkit menyatakan kalimah yang benar terhadap pemerintahan yang zalim sepertimana hadis Rasulullah S.A.W

"Jihad yang utama, ialah menyatakan kalimah kebenaran di hadapan pemerintah yang zalim"



- Artikel iluvislam.com

Cantik itu Subjektif



Semasa saya kecil dahulu, saya tidak tahu makna cantik. Tetapi, saya selalu dengar orang puji mama saya cantik. Baru saya tahu mama saya cantik. Cantik itu adalah mama saya.

Maka saya tengok mama saya. Muka mama putih melepak, mata beliau tajam menggoda. Baba kata macam mata kucing. Ramai orang ingat mama pakai kanta lekap tetapi sebenarnya mata mama memang Allah cipta sebegitu.

Mama juga seorang yang peramah dan lemah lembut. Beliau merupakan seorang guru. Apabila saya pergi ke sekolah mama, saya selalu dengar pelajar-pelajar mama puji mama cantik.

Apabila saya mula meningkat remaja, orang selalu kata kakak saya cantik macam mama saya.

Baru saya perasan, kakak saya cantik. Tetapi kakak saya berbeza daripada mama saya. Bulu mata dia lebat, melentik, dan mata dia besar. Kulit dia pula putih bersih, tidak berjerawat serta memiliki badan yang kecil.

Dia seorang yang lemah lembut dan peramah serta mudah mesra dengan orang. Dia mempunyai ramai kawan, dan ramai orang menyukai dan meminatinya.

Semua guru sukakan dia dan ramai lelaki yang ingin berkenalan dengannya. Kadang-kadang mereka berkawan dengan saya semata-mata ingin mendekati kakak saya.

Saya berbeza dengan mama dan kakak, saya tidak pernah mendapat pujian seperti mereka. Saya selalu mendengar kata-kata seolah-olah membandingkan saya dengan mama dan kakak.

Kadang-kadang mereka tidak menyangka bahawa saya merupakan anak dan adik kandung kakak memandangkan saya tidaklah secantik mereka.

Saya tembam, berkulit gelap, berjerawat, dan berangka besar. Saya juga seorang yang agak kasar dan garang. Kehidupan saya lebih rapat dengan abang-abang berbanding dengan kakak, oleh sebab itu saya membesar menjadi seorang perempuan yang tegas.

Saya membesar dengan pelbagai kritikan. Saya teringin untuk menjadi cantik seperti mama dan kakak, tetapi mustahil untuk saya menjadi cantik seperti mereka walaupun saya ber"make up" tebal.

Kecantikan mereka merupakan kurniaan Illahi, dan saya tidak dikurniakan memiliki kecantikan seperti itu.

Namun saya redha dengan apa yang Allah beri pada saya. Kawan saya cakap cantik tu subjektif. Ada orang yang nampak cantik di mata semua orang, dan ada orang yang nampak cantik di mata sesetengah orang sahaja. Saya mengaku, kata-kata kawan saya itu ada benarnya.

Jadi, saya tidak lagi mencuba untuk nampak cantik di mata sesiapa. Kerana saya tahu saya tidak mampu untuk kelihatan cantik seperti mama dan kakak.

Saya telah berjaya buktikannya. Kecantikan luaran saya tidak mampu ubah, tetapi kecantikan peribadi masih boleh saya miliki. Kecantikan akhlak, budi bahasa membuatkan saya juga memiliki ramai kawan dan guru-guru juga turut menyukai saya.

Saya sentiasa berusaha untuk menjaga akhlak saya dengan kawan-kawan dan dengan guru. Saya sentiasa mencuba untuk membuat baik dan membantu mereka. Alhamdulillah, saya mampu buktikan saya juga berjaya memiliki apa yang kakak saya miliki walaupun saya tidak dikurniakan kecantikan rupa paras seperti mereka.

Perkara tu sangat susah untuk saya lakukan kerana pada asalnya, saya bukanlah begitu. Pada mulanya saya seorang wanita yang sombong dan berperangai buruk. Saya tahu saya tidak boleh ubah rupa paras saya, tapi saya boleh ubah perangai dan akhlak saya. Biarlah rupa paras tidak cantik, asalkan peribadi dan akhlak saya cantik.

Secara beransur-ansur, saya cuba untuk menjadi perempuan yang berakhlak mulia, bersopan santun dan lemah lembut.

Saya mengaku saya memang tidak boleh ubah diri saya jadi lemah-lembut seperti mama dan kakak. Mereka memang begitu ukurannya, dan saya memang begini ukurannya. Namun saya telah mencuba sedaya upaya untuk memiliki sifat-sifat baik yang perlu dimiliki oleh wanita muslimah. Bukan untuk memiliki ciri-ciri seperti kakak dan mama, tetapi membentuk ciri-ciri saya sendiri yang Allah pendamkan dalam jiwa saya berdasarkan yang telah diajar oleh Baginda Rasulullah saw..

Secara jujurnya saya tidak mampu untuk memiliki sifat lemah-lembut seperti kakak. Hati saya bukan seperti hati kakak yang berjiwa lemah lembut. Mungkin situasi yang kami lalui berbeza, maka sifat yang membentuk peribadi kami berbeza.

Saya terdidik dengan kritikan dan hati saya sedikit sebanyak telah terguris walaupun pada dasarnya tidak pernah kelihatan. Namun ia telah membentuk peribadi yang lebih keras dan tegas supaya saya mampu mengharunginya.

Saya telah berusaha untuk menjadi yang terbaik, namun masih ada lagi kata-kata yang terkeluar daripada mulut-mulut yang tidak sedar dengan pemberian Allah yang mampu mengguris perasaan saya.

Masih ramai lagi orang yang selalu membanding-bandingkan saya dengan mama dan kakak dengan kecantikan luaran. Malah mereka selalu persoalkan kenapa paras rupa saya tidak cantik seperti mama dan kakak saya tanpa rasa bersalah. Saya betul-betul terguris dengan kata-kata seperti itu walaupun saya tidak pernah menzahirkannya. Hanyalah Allah yang memahami perasaan saya.

Walaupun hati saya banyak terguris dengan kata-kata mereka, namun saya bertekad dan ingin membuktikan bahawa kecantikan bukan penentu kebahagiaan, yang penting adalah dengan ilmu yang saya miliki dan cara saya membawa diri.

Saya pun menanam azam untuk belajar bersungguh-sungguh kerana saya selalu dengar, tidak guna cantik andai tidak berilmu. Saya ingin menjadi seorang yang berilmu.

Kekurangan saya, saya jadikan perangsang untuk berjaya. Saya berjaya kerana saya berusaha, bukan kerana paras rupa saya. Biarlah saya menang kerana memiliki ilmu bukan kerana memiliki kecantikan. Setiap orang memiliki kelebihan masing-masing, dan kelebihan tersebut perlu dicari dalam diri sendiri.

Baru kini saya sedar, walaupun Allah tidak kurniakan saya kelebihan dari segi kecantikan, namun Allah telah memberi saya banyak kelebihan yang tidak semua orang miliki.

Saya memiliki kemahiran melukis dengan baik, boleh mencipta dan mengubah lagu, serta Allah juga mengurniakan saya pemikiran yang kreatif untuk mereka sesuatu yang baru.

Saya berjaya buktikan kecantikan itu bersifat subjektif. Cantik tidak semestinya dinilai dengan kecantikan paras rupa, namun kecantikan juga boleh diukur dengan akhlak yang baik, ilmu yang berguna, serta cara kita membawa diri. Apa yang penting, kenali kecantikan semulajadi diri sendiri dan lakukan yang terbaik untuk menjaganya. Jika mengharapkan sesuatu yang Allah tidak ciptakan untuk jadi milik kita, kita tidak akan mengenali erti bersyukur.

Alhamdulillah. Banyak pengajarannya daripada kekurangan saya ni. Disebabkan saya tidak cantik, saya tidak terlalu mengejar produk-produk kecantikan yang mahal-mahal yang dijual di pasaran.

Kerana saya tidak cantik, saya tidak jadi mangsa gangguan lelaki-lelaki yang rosak akhlaknya.

Kerana saya tidak cantik, saya dapat pelihara diri saya daripada pandangan bernafsu lelaki yang tidak menjaga pandangannya.

Kerana saya tidak cantik, saya selamat daripada menjadi senjata iblis mencairkan iman lelaki.

Kerana saya tidak cantik, saya tidak mendapat fitnah dan cemburu daripada wanita-wanita lain.

Kerana saya tidak cantik, saya tidak mengharapkan pujian daripada mana-mana lelaki dan wanita, dan kerana saya tak cantik, akhirnya saya menemui insan yang mencintai saya seadanya.

Paling penting, kerana saya tak cantik, saya sentiasa mencuba untuk menjadi cantik pada pandanganNya. Cantik pada pandangan manusia bukanlah apa-apa.

Saya ingin berpesan kepada saudari-saudari sekelian yang mengejar kecantikan. Tiada wanita yang lebih cantik, melainkan wanita solehah.

Cantik di dunia, tidak membawa sebarang kebahagiaan di akhirat kelak. Cantiklah untuk DIA, maka segalanya akan menjadi CANTIK.



- Artikel iluvislam.com

Aku Adalah Pelajar Universiti Kehidupan




Kalau ditanyakan kepada orang tua, bilakah masanya dalam takah kehidupan ini mereka rasakan terlalu banyak melakukan kesalahan dan kesilapan? Nescaya mereka menjawab, "semasa kami masih muda."

Ya, bila seorang tua menoleh ke belakang, terasa begitu banyak perkara yang sepatutnya dibuat semasa muda, tidak dibuat. Sebaliknya banyak pula perkara yang tidak sepatut dibuat, telah dibuat.

Sayangnya, kebanyakan orang muda tidak menyedari hakikat ini sehinggalah mereka sendiri meningkat tua. Lalu atas kealpaan itu mereka akan mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan oleh bapa, datuk dan moyang mereka pada zaman mudanya. Pendek kata, ramai manusia lambat belajar di 'universiti kehidupan' ini. 'Kurikulum' pelajaran yang sepatutnya telah difahami di peringkat muda baru difahaminya hanya apabila kita meningkat tua.

Alam adalah sebuah 'universiti' yang luas dan besar. Setiap manusia adalah para pelajarnya. Dan manusia terpaksa belajar berterusan. Hidup adalah satu siri pelajaran yang tersusun rapi untuk difahami dan dihayati sepanjang hayat. Mungkin ini juga termasuk dalam maksud "tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahad."

Jika difahami, pelajaran-pelajaran ini akan memberi panduan dan suluh kehidupan untuk hidup yang lebih tenang dan bahagia. Tetapi sekiranya pelajaran ini gagal difahami, maka hidup akan huru-hara dan kita akan selalu menghadapi keadaan yang tidak menentu.

Kurikulum pelajaran ini pula tersusun mengikut tahap usia dan tempoh kedewasaan seseorang. Justeru, di peringkat muda ada 'pelajaran-pelajaran' tertentu yang perlu difahami benar-benar sebelum menghadapi usia dewasa yang jauh lebih mencabar. Apakah 'pelajaran-pelajaran' itu dan apakah cara sebaik-baiknya mempelajarinya?

Itulah salah satu persoalan penting yang mesti dijawab oleh setiap kita. Jangan sampai pelajaran yang sepatutnya 'selesai' pada usia muda terpaksa dibawa ke peringkat tua. Kalau begitu keadaannya maka rugilah. Samalah seperti pelajar universiti yang terpaksa 'refer' atau 'repeat' akibat gagal dalam peperiksaan semester atau tahunan mereka.

Proses Transisi

Para remaja adalah kelompok manusia yang sedang melalui satu proses transisi. Mereka telah meninggalkan alam kanak-kanak tetapi belum mencapai alam dewasa. Tahap transisi ini tidak stabil. Umpama air (cecair) yang hendak bertukar menjadi wap (gas), maka molekul-molekulnya terlebih dahulu bergerak dengan cepat dan tidak menentu.

Keadaan itu samalah dengan remaja, pada tahap itu jiwa, akal, nafsu, emosi dan lain-lain elemen-elemen dalaman mereka sedang bergolak. Takah usia ini paling tidak stabil – tercari-cari identiti diri, krisis pemikiran, ingin mencuba, perubahan biologi dan macam-macam lagi.

Dan di tahap ini juga para remaja akan menemui pelbagai situasi dan kondisi – suka dan duka, kejayaan dan kegagalan, permusuhan dan kasih-sayang, sempadan dan teladan. Muncul pelbagai individu dalam hidup mereka dengan pelbagai kelakuan dan sikap. Terjadi bermacam-macam peristiwa dengan membawa pelbagai kesan.

Ada Pelajaran Untuk Difahami Dan Dihayati

Sesungguhnya semua itu tidak berlaku sia-sia melainkan ada 'pelajaran' yang dibawanya untuk difahami dan dihayati. Para remaja (malah orang tua sekalipun) mesti dapat membaca 'mesej' yang dibawa oleh setiap peristiwa, individu dan keadaan yang berlaku ke atas kita. Jika tidak, kita terpaksa mengulangi pelajaran itu berkali-kali.

Sebab itulah dalam pengalaman kita, sering kita temui orang tertentu yang sentiasa berdepan dengan masalah yang sama. Abu misalnya, akan sentiasa 'pokai' setiap pertengahan bulan dan sentiasa merungut duitnya tidak cukup. Minah, sudah lima kali ditinggalkan kekasih dan mengeluh tidak ada lelaki yang benar-benar memahami perasaannya. Joe pula, telah tujuh kali jatuh motor dan marah-marah tentang nasib malang yang sedang menimpanya.

Anehnya mengapa Mat tidak mengalami masalah 'pokai' seperti yang selalui dialami Abu. Bedah tidak seperti Minah, dia telah pun bertunang dengan lelaki yang pertama dikenalinya? Manakala Samad, cuma sekali sahaja jatuh motor dalam hidupnya dan sekarang sedang selesa memandu Perodua yang baru dibelinya... Apakah yang menyebabkan keadaan atau nasib mereka berbeza?

Cepat Dan Lambat Belajar

Bezanya ialah ada diantara para kita yang cepat belajar dengan hidup sebaliknya ada di antara mereka yang tidak pernah atau lambat belajar. Yang belajar, akan 'naik kelas' dan layak untuk mengambil mata pelajaran baru yang lebih tingkat dan martabatnya. Yang tidak belajar, terpaksa mengambil mata pelajaran yang sama berkali-kali.

Abu, contoh kita tadi, tidak pernah belajar bagaimana mengurangkan perbelanjaan berbanding pendapatan... dan dia akan mengalami masalah yang sama walaupun kiranya nanti ia menjawat jawatan yang tinggi dan bergaji besar. Manakala Minah, tidak cuba mengenali kelemahan dirinya sendiri sebagai seorang wanita justeru dia sering menemui lelaki yang tidak sepatutnya dia temui.

Pasti Ada Didikan Terus Daripada Allah

Jadi langkah pertama supaya kita 'lulus' dalam pelajaran hidup ialah kita perlu akur bahawa setiap yang berlaku di dalam kehidupan ada unsur pengajaran dan didikan buat kita. Setiap peristiwa, pahit atau manis, setiap individu, baik atau buruk – hakikatnya adalah 'guru' yang mengajar kita. Dan setiap guru itu mengajar sesuatu yang baik, walaupun kadangkala kelihatan pahit, pedih dan sakit kita menerimanya.

Untuk itu, apabila ditimpa sesuatu musibah atau menerima sesuatu nikmat, hendaklah ditanyakan pada diri sendiri, "apakah pelajaran yang di sebalik semua ini?" Pandanglah semua yang berlaku ke atas kita ada tujuan yang tertentu, maka barulah hidup kita sentiasa bertujuan. Kata ahli-ahli sufi, setiap yang berlaku dalam hidup ialah 'mehnah' – maksudnya didikan terus dari Allah.

Mereka berpendapat bahawa apa sahaja yang berlaku dalam hidup adalah ujian dan ujian itu hakikatnya adalah didikan terus daripada Allah. Ahli sufi menambah lagi bahawa jika manusia tidak mampu dididik melalui didikan terus dari Allah (mehnah) maka manusia tersebut tidak akan dapat dididik lagi oleh sesiapaun. Inilah yang ditegaskan oleh Ibnu Attoillah, seorang sufi yang terkenal dalam buku-buku karangannya.

Jika seorang datang membuat kita marah, maka dia adalah 'guru' yang hendak mengajar kita erti sabar. Jika kita selalu 'kesempitan' wang maka itu tandanya kita harus bersedia belajar erti berjimat cermat. Jika kita rasa kita sedang dikecewakan, itu menunjukkan kita sedang belajar untuk membina sikap tidak terlalu mengharap.

Begitulah seterusnya dalam apa jua situasi dan masa, kita hakikatnya sedang belajar dan dididik. Memang pada lahirnya, manusia, peristiwa dan kejadian yang sedang bertindak ke atas kita tetapi sedarilah hakikatnya semua itu adalah datang dari Allah. Semuanya berlaku dengan izin Allah, yang dengan itu DIA hendak mendidik kita. Maka terimalah didikan itu dengan baik kerana tujuanNya mendidik pun pasti baik.

Apakah sebenarnya yang menjadi 'tujuan' di sebalik 'pelajaran-pelajaran' yang datang dan pergi dalam hidup kita? Tujuan utama pelajaran dalam hidup ini adalah untuk mengubah kita ke arah yang lebih. Perubahan tidak dapat dielakkan justeru hidup ini sendiri adalah satu proses perubahan yang berterusan.

Sudah menjadi sunatullah (peraturan Allah) yang tidak berubah dalam hidup ini adalah perubahan itu sendiri. Perubahan sentiasa berlaku dan ia diluar kawalan manusia. Kita akan kalah jika kita tidak berubah. Jadi, berubahlah mengikut haluan dan kawalan kita sendiri. Jika tidak, kita juga terpaksa berbuah, mengikut kawalan orang lain atau keadaan sekeliling.

Manusia Umpana Nakhoda Di Lautan

Manusia umpama nakhoda yang belayar di lautan. Sebagai nakhoda kita punya arah dan destinasi tersendiri. Tetapi tiupan angin, pukulan gelombang dan cuaca tidak selalunya menyebelahi kita. Kekadang arah pelayaran kita ke utara tetapi angin bertiup ke selatan. Kita akan tersasar dari destinasi jika menurut sahaja tiupan angin.

Sebaliknya kita akan patah, jika terus berkeras menentang tiupannya. Jadi, apakah kita menjadi 'Pak Turut' yang terpesong tanpa prinsip dan haluan? Atau bersikap keras, rigid dan akhirnya patah kerana kedegilan melawan gelombang?

Sehubungan itu, bijak pandai pernah berkata, "we can't direct the wind but we can adjust our sail." Ertinya, walaupun kita tidak boleh menentukan takdir yang menimpa tetapi kita diberi kuasa oleh-Nya untuk mentadbir diri kita. Inilah kelebihan manusia, sebagai khalifah.

Kita diamanahkan untuk mentadbir pendengaran, sentuhan, penglihatan, penciuman, penglihatan, fikiran, emosi, hati dan tindakan kita dalam lingkungan takdir-Nya. Oleh itu, dengan segala kuasa dan kelebihan yang ada, kita perlu berubah mengikut arah dan bentuk yang kita pilih dengan izin Allah jua.

Zon Selesa

Malangnya, ramai manusia yang tidak suka berubah. Ada kita bersikap 'selamba' dan 'relaks' dengan apa sahaja yang berlaku termasuk perubahan yang berlaku pada diri dan sekeliling mereka. Mengapa? Sebab perubahan ertinya hijrah atau berpindah. Setiap hijrah dan berpindah itu menagih kesusahan. Maksudnya, orang yang berhijrah terpaksa meninggalkan zon keselesaan (comfort zone) untuk menuju zon cabaran (courage zone).

Misalnya, anak kecil yang hendak berpindah dari tahap merangkak ke tahap berjalan, tentu terpaksa bertatih-tatih, jatuh bangun, jatuh dan terpaksa mengalami calar-calar dan sebagainya. Namun segala-galanya terpaksa dihadapi demi membolehkan dia berjalan. Apa akan jadi kalau ada anak kecil yang terus selesa merangkak dan tidak mahu belajar berjalan kerana takut cabaran? Tentulah tidak ada perkembangan dalam hidup. Maka begitulah para kita, dengan ujian mereka dituntut supaya berubah, jika tidak mereka tidak akan mencapai tahap kematangan untuk berjaya dalam hidup!

Ringkasnya, pelajaran dalam hidup datang bersama tuntutan perubahan. Jika sudah berkali-kali pelajaran disampaikan, tetapi masih tidak ada perubahan, maka itu bermakna kita gagal dalam peperikasaan di universiti kehidupan kita. Apa yang menghalang kita berubah?

Salah satunya ialah keinginan untuk melihat orang lain, keadaan atau peristiwa di luar diri kita terlebih dahulu berubah. "Aku boleh jadi baik, jika guru dan ibu-bapaku melayanku dengan baik," begitu selalu yang kita dengar. "Kedudukan kewanganku boleh stabil, jika pendapatanku bertambah," kata sesetengah yang lain. "Jikalau aku mengenali seorang lelaki yang beriman, aku akan menjadi isteri yang solehah." "Kalau motorku dari jenis yang mahal, tentu aku tidak terlibat dengan accident lagi!"

Begitulah suara-suara kelohan dan harapan yang selalu diluahkan oleh hati kita. Semuanya, mengharapkan keadaan, individu lain dan peristiwa berubah – barulah kita mahu dan mampu berubah. Sedangkan hukum perubahan tidaklah begitu. Kita mesti berubah dulu, barulah keadaan, peristiwa dan individu lain berubah akibat perubahan kita.

Guru dan ibu-bapa akan melayan kita dengan baik, jika kita terlebih dahulu berusaha menjadi anak atau murid yang baik. Anda berjimat cermat dahulu, barulah kedudukan kewangan anda akan stabil. Anda jadi wanita solehah dahulu, barulah akan ada lelaki beriman yang akan melamar anda. Dan anda perlu baiki dan memandu motor 'buruk' anda dengan baik barulah anda tidak terlibat dengan 'accident' dan akhirnya layak untuk mendapat motor baru yang mahal harganya!

Pelajaran Yang Menuntut Perubahan Berterusan

Ingat, setiap kali sesuatu menimpa kita, sama ada baik atau buruk... itu adalah pelajaran yang menuntut perubahan. Maka ubahlah diri kita selalu, ke arah yang baik, lebih baik dan cemerlang. Setiap detik, setiap ketika, ada sahaja peristiwa yang akan kita hadapi... maka belajarlah secara berterusan, dan berubahlah secara berterusan... Nanti kita akan mencapai kebaikan secara berterusan pula.

Jangan sekali-kali menangguhkan pelajaran, nanti anda akan menangguhkan perubahan dan akhirnya menangguhkan datangnya kebaikan. Belajarlah di universiti kehidupan semasa masih ada masa lagi, supaya kita tidak diburu penyesalan apabila tempoh pengajian tamat (mati).

Kata pepatah, "belajar sewaktu muda bagai melukis di atas batu, belajar sewaktu tua bagai melukis di atas air." Teringat kata Dale Carnargie, "jangan gergaji abuk kayu!" Dan itulah nasib orang tua yang tidak belajar semasa mudanya!

Buat diri ku dan diri mu, kuaklah tirai hari ini dan ingatkan diri... aku adalah pelajar di universiti kehidupan ini. Hari ini Allah pasti mengajar ku melalui perlakuan-perlakuan manusia lain kepada ku. Dan aku mesti belajar dengan orang lain, kejadian, peristiwa itu – pahit atau manis.

Jika manis, Allah mengajarku erti syukur. Jika pahit, Allah mengajar ku erti sabar. Jika dikecewakan, aku sedang belajar hakikat tawakal. Bila cemas, Allah mengajar ku erti raja' (mengharap). Jika sedikit, Allah mengajar ku erti qanaah (berpada-pada). Ya Allah, lepaskan hati kami dari asbab-asbab ini, agar kami bebas dan tenang berpaut pada 'musabbabil asbab' (Penyebab segala sebab) – wajah-Mu ya Allah.

Pujuklah hati, katakan, didikan ini demi cinta-Nya jua.

- Artikel iluvislam.com

Biodata Kolumnis
Ustaz Pahrol Mohd Juoi merupakan seorang penulis buku, artikel, lirik nasyid dan juga skrip. Salah satu buku karangan beliau adalah 'Tentang Cinta.' Penulis kelahiran Ipoh, Perak ini merupakan seorang master trainer untuk syarikat Fitrah Perkasa Sdn. Bhd. dan juga ketua editor majalah Solusi terbitan syarikat Telaga Biru Sdn. Bhd. Blog beliau adalah www.genta-rasa.com.

Petua Menjadi Pelajar Cemerlang Menurut Al-Quran

Petua Menjadi Pelajar Cemerlang Menurut Al-Quran




Anda inginkan petua-petua untuk menjadi pelajar cemerlang walau di mana sahaja anda berada?

Apa kata kita renungkan kembali beberapa petua atau tips kejayaan yang telah Allah SWT titipkan di permulaan surah Al-Mu'minun, surah yang ke-23 di dalam lembaran Al-Quran.

01.Keyakinan, kepercayaan and keimanan kepada Allah SWT

"Sesungguhnya berjayalah orang-orang yang beriman." [23:1]

Iman dan kejayaan disebut oleh Allah SWT dalam ayat yang sama. Maka imanlah faktor utama kejayaan. Dan keyakinan yang tinggi inilah yang akan melahirkan sikap positif yang bakal disebutkan dibawah.

02.Fokus, bersungguh-sungguh, sepenuh hati

"iaitu orang-orang yang khusyuk dalam solatnya." [23:2]

Lakukan satu-satu perkara dalam satu-satu masa. Jangan mencapah dan melayang fikiran ke sana ke mari. Lakukan dengan sepenuh hati, bukan sambil lewa.

03.Prioriti. Mengutamakan apa yang utama.

"dan orang-orang yang menjauhkan diri dari lagha (perbuatan dan perkataan yang tidak berguna)." [23:3]

Kebiasaannya dalam menghadapi musim peperiksaan yang penuh tekanan, kita cenderung untuk berehat dan menenangkan minda dengan hiburan, menonton drama, bersembang di Facebook dan seumpanya sehinggakan selalu sahaja melebihi daripada masa rehat yang telah kita peruntukkan.

Sebaik-baiknya kita mengoptimumkan penggunaan masa untuk belajar, dan mengisi masa rehat kita dengan perkara-perkara yang berfaedah seperti membasuh, melipat atau menggosok baju, bersenam untuk melancarkan perjalanan darah di dalam badan dan bermacam-macam lagi yang anda sendiri lebih sedia maklum.

Namun, sebaik-baiknya kita gunakan masa rehat itu untuk mengambil wudu', melakukan solat sunat dan membaca Al-Quran. InsyaAllah apabila kita lebih rapat dengan Allah SWT, jiwa kita akan lebih tenang dan ia akan banyak membantu dalam usaha kita mengulangkaji pelajaran.

Kita dikehendaki menghindarkan diri dari perbuatan mengumpat pensyarah/guru kerana perkara-perkara sebegini tidak mendatangkan faedah kepada masa depan anda, tidak menambahkan markah untuk kertas peperiksaan yang bakal/telah diduduki, malah boleh mendatangkan dosa dan kemurkaan Allah SWT.

04.Prihatin sesama kita

"dan orang-orang yang menunaikan zakat." [23:4]

Walaupun sedang berada di saat-saat genting, janganlah kita bersikap terlalu mementingkan diri, dan mengabaikan kawan-kawan yang lebih susah di sekeliling kita. Kongsilah apa yang termampu, samada ilmu, kertas-kertas soalan tahun lepas dan lain-lain. Sharing is caring.

05.Jaga hubungan antara lelaki dan perempuan

"dan orang-orang yang menjaga kehormatannya. kecuali terhadap isteri-isteri mereka, atau hamba yang mereka miliki, maka mereka (isteri dan hamba) dalam hal ini tiada tercela. Sesiapa yang mencari dibalik itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas." [23:5,6,7]

Janganlah kita menggunakan alasan belajar untuk melanggari batas-batas pergaulan antara lelaki dan perempuan ajnabi, misalnya dengan studi berdua-duan, kemudian pulang ke rumah berpimpin tangan, atau asal tertekan je mesti nak bergayut atau berchatting dengan kawan lelaki/perempuan anda.

Padahal Allah SWT kan sentiasa ada, sentiasa melindungi dan sentiasa menolong jika kita mencari dan meminta pada-Nya.

06.Jujur, amanah

" dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah dan janjinya."[23:8]

Bukankah kita telah berjanji dengan pihak penaja dan ibu bapa kita untuk belajar bersungguh-sungguh? Lebih penting lagi, bukankah kita telah berjanji dengan Allah SWT untuk memanfaatkan peluang kehidupan sebagai seorang pelajar yang telah dipinjamkan-Nya kepada kita sebagai medan untuk kita mengutip ilmu, pengalaman dan pahala buat bekalan di akhirat sana?

Elakkan menipu ketika peperiksaan. Andai penjaga peperiksaan meminta kita berhenti menulis kerana masa sudah tamat, jangan pula kita terus menulis. Sebaliknya sebutlah "Bismillahi tawakkaltu 'ala Allahi wala haula wala quwwata illa billahil 'azim."

07.Tepati waktu

"dan orang-orang yang memelihara solatnya." [23:9]

Konsep yang boleh diambil dalam konteks kehidupan seorang pelajar Muslim ialah supaya sentiasa belajar dengan berdisiplin, menepati masa, tidak berlengah-lengah, menjaga kualiti dan produktiviti harian kita. Jika sebelum ini kita diingatkan supaya berhenti menulis apabila tamat masa peperiksaan, kita juga perlu memulakan perjuanganan kita dalam pelajaran dan peperiksaan seawal yang mungkin. Memelihara solat lima kali sehari setiap hari juga mengajar kita untuk tidak berputus asa atau berpatang arang di pertengahan jalan.

Namun janganlah kita hanya mengaplikasikan konsep-konsep ini untuk akademik semata-mata. Penekanan utama dalam ayat tersebut supaya kita menjaga hubungan kita dengan Allah SWT kerana kita akan kembali mengadap-Nya dengan amal-amal kita, bukan dengan berapa gulung ijazah yang berjaya kita perolehi. Belajar dan ijazah hanyalah alat untuk kita mencapai keredhaan Allah SWT dan merebut peluang mewarisi syurga-Nya.

" Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi. Iaitu yang akan mewarisi Syurga Firdaus. Mereka kekal didalamnya." [23:10,11]

" ....Maka di antara manusia ada yang berdoa: 'Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia.' Dan tiadalah baginya bahagian di akhirat."[2:200]

"Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari seksa neraka." [2:201]

"Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan dan Allah sangat cepat perhitungannya." [2:202]

Kesembuhan Itu Milik Allah

Sesungguhnya kesembuhan itu milik Allah. Kata-kata yang telah dijadikan perangsang bagi

memotivasikan diri sendiri dan insan lain yang sedang sakit dalam menghadapi keadaan kesihatan yang tidak mengizinkan. Begitulah antara ujian kecil berupa penyakit yang dihidapi oleh kebanyakan insan yang telah dipilih oleh Allah sebagai bukti kasih sayang-Nya, kafarah dosa dari-Nya, dan peningkatan darjat hambaNya.

Sesungguhnya penyakit yang diturunkan oleh Allah ini banyak menguji ketahanan fizikal dan mental, kerana tempoh tersebut merupakan titik tolak ke arah kesedaran bahawa kematian akan mengejar kita bila-bila masa sama ada bersedia atau tidak.

"Di mana jua kamu berada, maut akan mendapatkan kamu (bila sampai ajal), sekalipun kamu berada dalam benteng-benteng yang tinggi lagi kukuh." [al-Nisaa' 4:78]

Mengingati saat menziarahi jenazah suami kepada seorang sahabat yang meninggal dunia secara tiba-tiba tahun lepas telah banyak mengubah paradigma tentang kematian itu sendiri. Sama ada kita bersedia atau tidak, bertaubat atau belum bertaubat, ajal itu pasti akan datang, cuma waktu dan ketikanya sahaja tidak diketahui. Cuma persoalannya, adakah kita telah bersedia dengan bekalan-bekalan yang disediakan? Adakah cukup bekalan yang disediakan? Bagaimanakah keadaan kita semasa dalam alam kubur? Bernasib baik atau sebaliknya?

Hal ini sedikit sebanyak telah menghantui diri sendiri sehingga telah mewujudkan suatu ketakutan yang luar biasa dalam diri. Hal ini ditambah pula dengan penyakit yang dialami yang masih tidak sembuh-sembuh, telah meningkatkan lagi tahap ketakutan dan pada masa yang sama telah mewujudkan satu situasi yang tegang dalam emosi, fikiran serta memberi tekanan kepada diri sendiri.

Namun begitu, ketahanan mental dan fizikal berteraskan ayat-ayat Allah telah berjaya mengatasi masalah tekanan tersebut sehingga dapat kembali mewujudkan satu senario yang aman dan tenang hingga kembali semula kepada keadaan asal. Mengingati mati dapat melembutkan hati, tetapi apabila mengingati kematian itu secara negatif, hal ini akan dapat memberikan kesan negatif kepada diri sendiri.

Apabila kita bergantung sepenuhnya kepada Allah, menyerahkan segala-segalanya kepada Dia, berdoa bersungguh-sungguhnya kepada-Nya, Sesungguhnya Dia yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, akan mengabulkan dan memperkenankan doa kita. Berusaha, berdoa,berserah, bertawakal itulah tanda pergantungan seorang hamba kepada Tuhannya.

"Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan solat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." [Al-Baqarah, 2:153]

Segala masalah penyakit, rujuklah kepada Allah. Daripada-Nya datang segala kebaikan, dan kejahatan juga tidak berlaku dengan izin Allah. Kita perlu berikhtiar, berusaha dan doa-doa kita yang dimakbulkan dan ada juga yang Allah tangguhkan tetapi semuanya perlu dilakukan dengan hati yang ikhlas.

Kuasa penyembuhan semuanya dari Allah. Kita sebagai hamba-Nya perlu redha dengan apa yang ditetapkan kerana setiap apa yang diturunkan kepada kita adalah ujian, sama ada kita dapat redha menerima atau tidak, semuanya untuk meningkatkan darjat kita di samping membersihkan dosa-dosa yang dilakukan.

Tidakkah semua ini adalah rezeki dari Allah, dimana Dia sering memberi perhatian kepada kita, tidakkah ini akan membuatkan kita sentiasa ingat pada-Nya? Anggaplah suatu penyakit itu sesuatu yang positif kerana jika kita redha dengan suatu ujian, Allah akan melipat gandakan pahala kita.Semoga anda semua cepat sembuh begitu juga diriku ini.

Adalah diharapkan artikel ini dapat membawa manfaat kepada semua dan marilah kita saling ingat-mengingati antara satu sama lain. Kelalaian dan kelekaan terhadap duniawi pasti mewujudkan satu jurang yang besar dalam diri kita sendiri dengan Allah.Semoga artikel ini akan menjadi saksi bagi diriku di akhirat kelak sebagai salah satu medium untuk berdakwah kepada pembaca semua.

Redhalah dengan ujian yang kecil ini kerana ujian itu adalah hadiah dan cinta dari Allah. Bersabarlah dengan penyakit yang menimpa ini dan yakin akan sembuh kerana sesungguhnya kesembuhan itu milik-Nya, tiada apa yang kita cari melainkan dalam kembara hidup ini selain memburu cinta dan rindu-Nya.

Ungkapan syukur yang tidak terhingga kepada Allah kerana penyakit yang ditimpakan kepada diriku tidaklah sehebat penyakit kritikal yang dihidapi oleh insan lain, walaupun kecil, penyakit ini tetap memberi kesan yang kuat terhadap sistem ketahanan fizikal disamping memberi tekanan yang hebat terhadap mentalku. Aku bersyukur aku masih diberi kesempatan oleh Allah untuk menghirup udaranya yang segar ini. Berusaha, berdoa dan bertawakal itulah kekuatan sebenarnya dalam penyembuhan penyakit ini. Yakin dan positiflah dengan ujian penyakit yang diturunkan kepada kita.

"Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan saja mengatakan; "Kami telah beriman," sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." [Al-Ankabut, 29:2-3]

Akhir kata, jadikan ayat-ayat Allah sebagai peransang dalam meningkatkan motivasi dalaman kita dalam membentuk keperibadian soleh dan solehah.

"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi darjatnya, jika kamu orang-orang yang beriman." [Al-Imran, 3:139]

Sesungguhnya Dialah yang mencipta perasaan cinta dan rindu itu. Semoga Dia yang sangat kita cintai dan kita rindui akan tetap terpahat kukuh dalam jiwa dan sanubari kita. Wallahua'lam.

- Artikel iluvislam.com